Suasana di kelas satu SD Negeri 3 Balongwangi pagi itu terasa begitu hidup dan penuh antusiasme. Tidak tampak tumpukan buku tebal yang membosankan di atas meja para siswa. Sebagai gantinya, Ibu Herna Triwesti, sang wali kelas, telah menyiapkan sebuah petualangan visual yang ia beri tajuk Aku dan Lingkunganku. Melalui Modul Ajar Kurikulum Merdeka yang disusunnya, ia sedang mempraktikkan sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya menyasar kecerdasan kognitif, tetapi juga kepekaan hati nurani anak-anak didiknya.
Proses pembelajaran dimulai dengan sebuah pemantik sederhana namun bermakna. Ibu Herna tidak langsung menyuapi siswa dengan teori-teori kebangsaan yang rumit. Sebaliknya, ia mengajak siswa untuk menoleh ke jendela dan membayangkan perjalanan mereka dari rumah menuju sekolah. Dengan suara yang hangat, ia memancing ingatan anak-anak tentang apa saja yang mereka lihat di sepanjang jalan. Langkah awal ini merupakan bagian dari metode Joyful Learning, di mana kenyamanan emosional siswa menjadi fondasi utama sebelum materi inti disampaikan.
Setelah suasana mencair, Ibu Herna mulai membagikan lembar kerja yang penuh dengan warna dan gambar. Di sinilah interaksi aktif mulai memuncak. Proses belajar beralih menjadi sebuah permainan detektif lingkungan. Anak-anak diminta mengamati dengan saksama berbagai gambar benda, mulai dari pagar yang kokoh, pepohonan yang rindang, jalanan yang membentang, hingga kendaraan yang berlalu-lalang. Mereka tidak hanya sekadar melihat, tetapi belajar mengidentifikasi dan menandai mana saja benda yang ada di sekitar rumah mereka sendiri.
Riuh rendah suara anak-anak memenuhi ruangan saat mereka saling bercerita tentang pohon mangga di depan rumahnya atau warna pagar tetangganya. Dalam proses ini, Ibu Herna berperan sebagai fasilitator yang menjahit cerita-cerita sederhana tersebut menjadi sebuah pemahaman yang lebih besar. Ia menjelaskan bahwa rumah, halaman, dan tetangga mereka adalah bagian dari sebuah lingkungan kecil yang bernama RT dan RW, yang jika disatukan akan membentuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara perlahan namun pasti, konsep negara yang abstrak mulai mendarat dengan lembut di pikiran siswa melalui benda-benda nyata yang mereka temui sehari-hari.
Keseruan berlanjut saat pembelajaran memasuki sesi diskusi tentang aturan. Melalui narasi yang dibangun Ibu Herna, siswa diajak memahami bahwa mencintai lingkungan bukan hanya soal mengenal benda, tetapi juga soal perilaku. Siswa diajak untuk merenungkan bagaimana cara menjaga pagar agar tetap bersih atau mengapa mereka tidak boleh memetik daun pohon sembarangan. Proses ini adalah jembatan menuju pengamalan nilai-nilai Pancasila. Ibu Herna sedang mengajarkan bahwa ketaatan pada aturan rumah dan kepedulian terhadap lingkungan adalah bentuk paling nyata dari penerapan sila-sila Pancasila bagi anak seusia mereka.
Menjelang akhir jam pelajaran, suasana kelas tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Justru, semangat eksplorasi siswa semakin terlihat saat mereka menyelesaikan lembar kerja dengan penuh kebanggaan. Pembelajaran hari itu ditutup dengan refleksi sederhana, di mana setiap anak diminta mengungkapkan satu hal yang akan mereka lakukan untuk menjaga rumah mereka sebagai bagian dari Indonesia.
Melalui proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman langsung dan kegembiraan ini, Ibu Herna Triwesti telah berhasil mengubah ruang kelas di SDN 3 Balongwangi menjadi sebuah laboratorium karakter. Belajar Pancasila tidak lagi terasa seperti menghafal teks, melainkan sebuah perjalanan menemukan jati diri di tengah lingkungan rumah. Di tangan pendidik yang kreatif, sebuah pagar dan sebatang pohon pun bisa menjadi guru yang luar biasa dalam menanamkan rasa cinta pada tanah air sejak langkah paling awal.(Red)














