BALONGWANGI – Kalau ada yang bilang sekolah Cuma tempat belajar rumus dan menghafal sejarah, sepertinya mereka harus main ke SD Negeri 3 Balongwangi. Pasalnya, hari Kamis (12/3/2026) kemarin, suasana sekolah berubah total. Nggak ada bunyi bel masuk kelas atau suara kapur tulis, yang ada justru gema selawat dan tawa ceria para siswa yang lagi asyik merayakan momen “Buka Puasa Bersama & Santunan Anak Yatim”.
Kegiatan ini bukan sekadar acara makan-makan bareng, lho. Ini adalah cara SDN 3 Balongwangi buat “nge-charge” iman sekaligus melatih otot empati para siswanya di tengah bulan suci Ramadan.
Ngabuburit Berfaedah: Dari Mengaji sampai Tausiyah Seru
Acara dimulai sejak matahari masih malu-malu mau terbenam, sekitar pukul 16.30 WIB. Alih-alih main game di HP sambil nunggu buka, para siswa justru berkumpul rapi dengan outfit muslim terbaik mereka. Ada yang pakai koko warna-warni, ada juga siswi-siswi yang tampak anggun dengan mukena bermotif bunga.
Kegiatan dibuka dengan tadarus Al-Qur’an bareng. Suara lantunan ayat suci dari ratusan siswa ini bener-bener bikin adem suasana sekolah yang sore itu cukup cerah. Setelah itu, masuk ke sesi tausiyah yang jauh dari kata ngebosenin. Ustadz yang mengisi acara membawakan materi tentang “Tangan di Atas” dengan cara yang interaktif. Sesekali ada lemparan pertanyaan berhadiah yang bikin anak-anak makin semangat menyimak. Pesannya simpel tapi ngena: berbagi nggak akan bikin kita miskin, justru bikin hati makin kaya.
Momen “Deep”: Senyum Bahagia di Sesi Santunan
Masuk ke acara inti, suasana yang tadinya ceria berubah jadi sedikit haru tapi tetap hangat. Pihak sekolah membagikan santunan kepada siswa-siswi yatim dan piatu. Santunan ini adalah hasil donasi dari para guru, orang tua murid, dan beberapa donatur yang peduli.
Melihat wajah-wajah syukur para penerima santunan, kita jadi diingatkan sama kutipan di spanduk acara: “Sebuah senyuman dan kebersamaan kecil dari kita, bisa menjadi kebahagiaan besar bagi mereka.” Di sini, para siswa belajar langsung kalau Ramadan bukan Cuma soal menahan lapar, tapi soal gimana caranya kita bisa jadi alasan orang lain tersenyum. Pelukan hangat dari para guru saat menyerahkan santunan jadi pemandangan paling menyentuh sore itu.
War Takjil? Bukan, Ini War Kebersamaan!
Begitu azan Magrib berkumandang, momen yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tapi jangan bayangin suasana rebutan makanan ya. Dengan tertib, para siswa membatalkan puasa dengan takjil manis yang sudah disiapkan panitia.
Setelah salat Magrib berjamaah, sesi makan besar pun dimulai. Di sini nggak ada sekat antara guru dan murid. Semuanya duduk lesehan di karpet, menikmati hidangan dalam suasana kekeluargaan yang kental. Ngobrol santai, becanda tipis, sampai diskusi soal menu favorit berbuka jadi bumbu manis di penghujung acara. Momen silaturahmi seperti inilah yang bikin ikatan antara warga sekolah makin solid.
Kepala Sekolah SDN 3 Balongwangi menyebutkan kalau kegiatan ini adalah bagian dari “sekolah kehidupan”. Beliau ingin anak-anak didiknya punya karakter yang peka sama lingkungan sekitar. Cerdas di rapor itu penting, tapi cerdas secara emosional dan punya jiwa sosial itu jauh lebih utama untuk masa depan mereka.
“Kita ingin anak-anak merasa kalau sekolah itu rumah kedua mereka. Tempat di mana mereka nggak Cuma belajar matematika, tapi juga belajar jadi manusia yang bermanfaat buat orang lain,” ungkapnya dengan bangga.
Acara pun bubar sekitar pukul 18.30 WIB dengan wajah-wajah puas. Bukan Cuma karena perut kenyang, tapi karena hati mereka juga terisi dengan energi positif. Ramadhan di SDN 3 Balongwangi tahun ini sukses membuktikan kalau kebersamaan dan berbagi adalah kombinasi paling mantap buat merayakan berkah Tuhan

Komentar
Posting Komentar