BALONGWANGI- Lantunan sholawat yang mengalun lirih dari pengeras suara sekolah membelah kabut tipis pagi itu di SD Negeri 3 Balongwangi. Halaman sekolah yang biasanya riuh oleh tawa anak-anak yang berlarian, kini berubah menjadi hamparan saf yang rapi dan putih. Ratusan siswa duduk bersila dengan takzim, mengenakan pakaian muslim terbaik mereka, siap memulai sebuah hari yang dirancang bukan sekadar untuk merayakan hari besar, melainkan untuk memahat karakter dan menyentuh hati nurani mereka melalui aksi nyata "Berkurban untuk Negeri."
Matahari pagi belum begitu tinggi ketika seluruh warga sekolah merapatkan barisan untuk menunaikan salat Dhuha berjamaah. Di bawah langit pagi yang cerah, keheningan menyelimuti halaman. Gerakan demi gerakan salat diikuti dengan penuh kekhusyukan oleh para siswa, menciptakan pemandangan yang begitu menyentuh hati. Salat Dhuha ini menjadi pembuka gerbang spiritual hari itu, sebuah pengingat lembut bahwa segala bentuk keberkahan dan kesempatan untuk berbagi yang mereka miliki saat ini adalah titipan dari Sang Pencipta.
Seusai salam, suasana berganti menjadi lebih syahdu saat lantunan zikir istigasah mulai menggemas secara serempak. Suara anak-anak yang jernih berpadu dengan suara berat para guru, memohon ampunan, keselamatan, dan keberkahan untuk sekolah, keluarga, dan negeri tercinta. Beberapa siswa tampak memejamkan mata dalam-dalam, larut dalam bait-bait doa yang dipanjatkan. Air mata haru sempat menitik di sudut mata beberapa guru yang melihat betapa khidmatnya anak-anak didik mereka meleburkan diri dalam kepasrahan kepada Tuhan.
Setelah rohani ditenangkan oleh doa dan zikir, para siswa diarahkan untuk beranjak masuk ke dalam ruang kelas yang telah disulap menjadi aula beralaskan karpet panjang. Di dalam ruangan yang sejuk dan tenang ini, gema takbir perlahan meredup, berganti dengan suasana belajar yang sarat akan nilai-nilai luhur melalui kegiatan ngaji kitab.
Di depan kelas, guru agama duduk bersila menghadap para siswa yang melingkar dengan takzim. Sebuah kitab kuning ringkas terbuka di atas meja kecil. Dengan gaya bercerita yang memikat, sang guru mulai mengurai kisah abadi tentang keteguhan hati Nabi Ibrahim dan keikhlasan putranya, Nabi Ismail. Suasana di dalam ruangan terasa begitu intim; setiap kata yang terucap dari sang guru menggema jelas, meresap ke dalam sanubari anak-anak yang mendengarkan tanpa berkedip.
Guru menjelaskan bahwa esensi kurban yang sesungguhnya bukanlah tentang menyembelih hewan semata, melainkan tentang kesiapan manusia untuk menyembelih ego, sifat mementingkan diri sendiri, dan rasa kepemilikan berlebih atas dunia. Lewat ngaji kitab di dalam ruangan ini, kisah yang ribuan tahun lalu terjadi di tanah gersang Makkah seolah hidup kembali di benak para siswa, memberi mereka pondasi pemikiran yang kuat tentang arti sebuah pengorbanan.
Siang pun menjelang, dan tibalah saatnya bagi seluruh warga sekolah untuk menerjemahkan seluruh doa dan ilmu yang mereka serap sejak pagi menjadi sebuah aksi nyata. Setelah prosesi penyembelihan hewan kurban selesai dilakukan oleh para ahli dengan penuh adab, halaman sekolah berubah menjadi arena gotong yokong yang penuh kehangatan. Tidak ada lagi sekat antara guru, murid, dan wali murid; semuanya membaur dalam kegembiraan.
Dengan penuh semangat, anak-anak ikut membantu mengemas potongan-potongan daging ke dalam wadah-wadah anyaman bambu yang ramah lingkungan. Tangan-tangan kecil mereka dengan sigap mengikat dan merapikan wadah tersebut, tidak memedulikan peluh yang mulai membasahi dahi.
Puncak keharuan hari itu terjadi ketika kegiatan berbagai dimulai. Anak-anak dilepas untuk melangkah keluar gerbang sekolah, mengetuk pintu-pintu rumah warga di sekitar sekolah yang membutuhkan, serta menghampiri para lansia yang hidup sendiri. Dengan senyum polos dan membungkuk takzim, para siswa mengulurkan hasil kurban tersebut langsung ke tangan para warga.
Momen ketika tangan-tangan renta para lansia menerima pemberian itu dengan gemetar, dibarengi dengan untaian doa tulus yang keluar dari bibir mereka, menjadi sebuah pelajaran hidup yang tidak akan pernah ditemukan di dalam buku teks pelajaran manapun. Beberapa warga bahkan tak kuasa membendung air mata kebahagiaan, memeluk anak-anak tersebut sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam.
Melalui perjalanan sehari penuh dari sujud Dhuha hingga langkah kaki menyambangi rumah-rumah warga, SD Negeri 3 Balongwangi telah berhasil menanamkan arti hidup yang sesungguhnya ke dalam jiwa anak-anak didik mereka. Hari itu ditutup bukan hanya dengan perut yang kenyang setelah makan bersama, melainkan dengan hati yang penuh akan rasa syukur, kepedulian, dan cinta yang tulus untuk sesama dan negeri.(red)








0 komentar:
Posting Komentar