BALONGWANGI - Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri 3 Balongwangi, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, pada tahun pelajaran 2026-2027 menghadirkan inovasi melalui penerapan modul ajar berpendekatan deep learning. Dipandu oleh guru pengampu Sulaiman, S.Pd.I., kegiatan belajar mengajar dirancang secara sistematis untuk menanamkan nilai-nilai luhur agama kepada para peserta didik kelas enam. Fokus utama yang diangkat dalam pertemuan pertama ini adalah materi mengenai pengertian maaf dan memaafkan dengan mengusung tema hidup damai melalui sikap saling memaafkan.
Proses pembelajaran pada pertemuan pertama ini dikemas secara menarik dan interaktif melalui beberapa tahapan utama yang berkesan, bermakna, serta menyenangkan. Kegiatan pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yang kondusif, di mana guru mengucapkan salam, mengajak siswa berdoa bersama, mengecek kehadiran, memeriksa kerapian berpakaian, serta memastikan posisi duduk peserta didik sudah tertib. Selanjutnya, guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai, melakukan apersepsi, memberikan refleksi singkat terkait pelajaran sebelumnya, serta mengajukan pertanyaan pemantik untuk menstimulasi kesiapan belajar siswa.
Memasuki kegiatan inti, pembelajaran menerapkan tahapan penghubungan atau connecting dengan pengalaman pribadi siswa. Guru mengajukan pertanyaan reflektif kepada kelas, termasuk kepada seorang siswi bernama Nada, mengenai apakah ia pernah memaafkan teman yang menyakiti perasaannya serta bagaimana rasanya setelah melakukan tindakan pemaafan tersebut. Melalui keaktifan siswi bernama Nada di dalam kelas, suasana diskusi menjadi lebih hidup karena ia dan teman-teman sekelasnya antusias membagikan pengalaman nyata mereka. Tahapan ini bertujuan untuk menggugah kesadaran emosional siswa agar terhubung secara batin dengan materi yang dipelajari.
Selanjutnya, kegiatan berlanjut pada tahap experiencing atau mengalami langsung. Pada sesi ini, para siswa menyimak atau membaca kisah keteladanan Nabi Yusuf saat beliau dengan berjiwa besar memaafkan saudara-saudaranya. Guru dan siswa, termasuk keikutsertaan Nada dan rekan-rekannya, kemudian berdialog interaktif membahas isi serta pesan moral dari kisah tersebut, dilanjutkan dengan diskusi kecil untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai bagaimana jadinya dunia jika tidak ada seorang pun yang mau memaafkan.
Tahap berikutnya adalah thinking and reasoning atau menganalisis dan memahami makna secara mendalam. Dalam kegiatan ini, siswa diajak berdiskusi di kelas untuk memecahkan pertanyaan kritis, seperti apakah memaafkan berarti membenarkan perbuatan salah, serta alasan mengapa orang yang pemaaf disebut kuat oleh Rasulullah. Pemahaman ini kemudian diperdalam melalui kegiatan di mana siswa menuliskan refleksi singkat mengenai sosok yang pernah mereka maafkan dan perasaan yang mereka rasakan setelahnya.
Sebagai puncak penguatan nilai pada pertemuan pertama, kegiatan deepening atau pendalaman makna dilaksanakan melalui simulasi bermain peran dalam meminta dan memberi maaf secara tulus dan empati. Siswa juga dilatih menuangkan pemahaman mereka melalui penulisan surat maaf simbolis serta pembuatan poster atau kartu ucapan dengan tema bahwa maaf adalah cahaya hati.
Rangkaian kegiatan pertemuan pertama ini ditutup dengan tahap transferring atau penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Guru memberikan tantangan pekanan berupa penulisan jurnal karakter harian dengan tajuk hari ini aku memaafkan, di mana siswa mencatat satu orang atau satu hal yang mereka pilih untuk dimaafkan.
Terkait pelaksanaan pembelajaran yang berkesan ini, seorang siswi kelas enam bernama Nada menyampaikan testimoni positifnya. Menurut Nada, belajar Pendidikan Agama Islam bersama Pak Sulaiman sangat seru dan bermakna karena ia dapat belajar memahami pentingnya berjiwa besar, tidak menyimpan dendam, serta merasa lebih tenang setelah mengikuti simulasi dan praktik menulis kartu maaf di kelas.
Melalui modul ajar yang disusun secara mendalam dan terarah ini, diharapkan para peserta didik di SDN 3 Balongwangi mampu menginternalisasi sifat pemaaf sebagai karakter utama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pelaksanaan program ini juga mendapat dukungan penuh dari Kepala Sekolah (KS) Wartono, S.Pd., SD. demi memastikan kualitas pendidikan agama Islam berjalan secara optimal.












