BALONGWANGI – Suasana di salah satu sudut ruangan SD Negeri 3 Balongwangi tampak berbeda setiap Selasa siang. Alih-alih hening seperti jam pelajaran formal pada umumnya, udara di sana justru bergetar oleh perpaduan harmonis antara pukulan rebana yang ritmis dan lantunan sholawat yang menyejukkan jiwa. Inilah rutinitas mingguan yang menjadi magnet tersendiri bagi para siswa melalui ekstrakurikuler Al Banjari. Seni ini, yang merupakan warisan budaya Islam Nusantara, kini menjadi salah satu pilar pendidikan karakter di sekolah tersebut. Tidak sekadar memainkan alat musik perkusi, kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa-siswi untuk memperdalam rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus mengasah keterampilan seni yang bernapaskan religi.
Di era digital saat ini, di mana gawai seringkali mendominasi waktu luang anak-anak, langkah SD Negeri 3 Balongwangi untuk menghidupkan ekstrakurikuler Al Banjari merupakan sebuah terobosan penting. Pihak sekolah menyadari bahwa pendidikan tidak boleh hanya terpaku pada angka-angka di atas kertas, tetapi juga harus menyentuh aspek spiritual dan pelestarian budaya. Setiap hari Selasa, setelah lonceng pulang sekolah berbunyi, puluhan siswa dengan antusias berkumpul. Ada pemandangan yang menarik dalam latihan ini, di mana para siswa laki-laki bertugas sebagai pemukul terbang atau rebana, sementara kelompok siswi mengambil peran sebagai vokalis yang melantunkan bait-bait syair sholawat dengan penuh penghayatan.
Pelaksanaan latihan Al Banjari di sekolah ini sangat menekankan pada konsep harmoni dalam kebersamaan. Hal ini terlihat jelas dari formasi duduk melingkar yang menciptakan suasana kekeluargaan tanpa sekat antara siswa satu dengan lainnya. Seorang instruktur atau pembina berdiri di depan untuk memberikan arahan dengan penuh kesabaran, memastikan setiap pukulan rebana selaras dengan vokal yang dibawakan. Proses pembelajarannya dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan teknik dasar pukulan hingga penguasaan variasi ketukan yang lebih rumit.
Dalam setiap sesi latihan, para siswa diajarkan untuk mengenal jenis suara dasar pada rebana yang biasa disebut dengan istilah "tung" dan "tak". Setelah dasar tersebut dikuasai, mereka mulai mempelajari variasi ketukan seperti golong, anakan, dan lanangan yang menjadi ciri khas unik dari musik Al Banjari. Tak hanya soal ketangkasan tangan, olah vokal juga menjadi perhatian utama. Para siswa dilatih teknik pernapasan dan cengkok khas musik religi agar pesan dalam setiap syair yang dibawakan dapat tersampaikan dengan indah kepada pendengarnya.
Bagi para siswa, memegang rebana untuk pertama kalinya bukanlah perkara mudah karena dibutuhkan kekuatan tangan yang stabil dan konsentrasi tinggi agar tempo tidak berantakan. Namun, di sinilah letak nilai pembelajarannya yang sesungguhnya. Para siswa secara tidak langsung diajarkan untuk saling mendengarkan satu sama lain. Jika ada satu anggota yang memukul terlalu cepat, maka harmoni musik akan hilang. Hal ini menjadi simulasi nyata bagi mereka tentang betapa pentingnya kerja sama tim dan ego yang harus dikesampingkan demi mencapai tujuan bersama.
Dampak positif dari ekstrakurikuler ini pun mulai terlihat nyata pada perkembangan kepribadian para siswa di sekolah. Pihak sekolah mencatat adanya perubahan signifikan pada tingkat kedisiplinan dan sopan santun anak-anak yang aktif bergabung dalam grup Al Banjari. Berlatih ritme musik secara rutin terbukti membantu siswa meningkatkan fokus dan konsentrasi mereka, yang kemudian berdampak positif pada kegiatan belajar di dalam kelas. Selain itu, dengan terbiasa melantunkan sholawat, nilai-nilai religiusitas tertanam secara alami dalam diri mereka sejak usia dini.
Rasa percaya diri siswa juga tumbuh pesat melalui kegiatan ini. Keberanian untuk tampil di depan teman sejawat atau dalam acara resmi sekolah membantu mengikis rasa malu dan membangun mental yang kuat. Salah satu siswa peserta mengungkapkan kegembiraannya karena kini ia tidak hanya menjadi penonton saat ada pertunjukan di masjid, tetapi sudah bisa memainkan alat musiknya sendiri. Kebanggaan saat ketukan rebana selaras dengan suara rekan-rekan vokalisnya memberikan kepuasan batin yang memotivasi mereka untuk terus berlatih lebih giat lagi.
Melihat potensi besar yang dimiliki para siswa, SD Negeri 3 Balongwangi tidak ingin menjadikan Al Banjari sebagai sekadar hobi pengisi waktu luang. Grup ini diproyeksikan untuk menjadi representasi sekolah dalam berbagai ajang perlombaan, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Oleh karena itu, intensitas latihan seringkali ditingkatkan, terutama saat mendekati peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi atau Isra' Mi'raj. Di momen-momen tersebut, grup Al Banjari sekolah biasanya didaulat menjadi pengisi acara utama untuk menghibur sekaligus mengajak seluruh warga sekolah bersholawat bersama.
Dukungan dari orang tua siswa terhadap kegiatan ini pun tergolong sangat luar biasa. Banyak orang tua yang merasa bersyukur dan bangga melihat anak-anak mereka lebih memilih menghabiskan waktu dengan memegang rebana daripada terus-menerus terjebak dalam permainan gawai atau game online. Adanya dukungan moral dan materiil dari komite sekolah menjadi bahan bakar tambahan yang memastikan keberlangsungan ekstrakurikuler ini tetap terjaga di tengah tantangan zaman yang semakin modern.
Menatap masa depan, SD Negeri 3 Balongwangi memiliki harapan besar untuk terus mengembangkan kegiatan ini. Pihak sekolah berencana untuk melengkapi fasilitas alat musik yang lebih berkualitas serta menyediakan seragam khas bagi grup Al Banjari agar mereka memiliki identitas yang kuat sebagai duta seni sekolah. Semangat ini diharapkan dapat terus membara, sehingga para siswa tidak hanya tumbuh menjadi individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kelembutan hati dan kekayaan budaya.(Red)








0 komentar:
Posting Komentar