Tikung, Lamongan– Mentari pagi di bulan April 2026 menyapa dengan kehangatan yang berbeda di Kecamatan Tikung. Sejak pukul 07.00 WIB, halaman sekolah yang menjadi pusat kegiatan Sab’ah Lomba PAI (Pendidikan Agama Islam) dan Festival Banjari mulai dipadati oleh ratusan siswa dari berbagai penjuru desa. Di antara kerumunan seragam putih bersih dan busana muslim yang rapi, tampak sekelompok siswa dengan wajah berseri namun penuh konsentrasi. Mereka adalah delegasi kebanggaan dari SDN 3 Balongwangi.
Lomba PAI tingkat kecamatan ini bukan sekadar ajang kompetisi tahunan biasa. Bagi SDN 3 Balongwangi, ini adalah panggung pembuktian atas pembinaan karakter dan spiritualitas yang selama ini ditanamkan di lingkungan sekolah. Tahun ini, SDN 3 Balongwangi mengirimkan tujuh putra-putri terbaiknya untuk bertanding dalam berbagai disiplin ilmu agama, mulai dari seni baca Al-Qur'an hingga ketangkasan berpikir dalam cerdas cermat
Perjalanan menuju panggung lomba ini tidaklah singkat. Jauh sebelum hari pelaksanaan, sudut-sudut kelas di SDN 3 Balongwangi seringkali masih riuh hingga sore hari. Di bawah bimbingan guru-guru PAI yang sabar, para siswa berlatih mengasah kemampuan mereka. Ada yang berulang kali membetulkan makhrojul huruf, ada yang tekun menggoreskan tinta di atas kertas untuk kaligrafi, dan ada pula yang menghafal naskah pidato dengan penuh semangat.
"Kami tidak hanya melatih teknik, tetapi juga melatih mental," ujar salah satu guru pendamping dari SDN 3 Balongwangi saat ditemui di sela-sela lomba. "Anak-anak ini masih SD, tantangan terbesarnya adalah melawan rasa gerogi saat berdiri di depan juri dan banyak penonton. Kami selalu berpesan, niatkan ini untuk syiar, bukan sekadar mencari piala."
SDN 3 Balongwangi tampil dengan kekuatan penuh di hampir semua lini utama lomba. Di barisan terdepan, terdapat Ahmad Firman Khoirul Soim yang menjadi andalan dalam cabang Cerdas Cermat. Firman, yang dikenal cerdas dan memiliki ingatan tajam, memikul tanggung jawab untuk menjawab tantangan seputar pengetahuan agama dan umum dengan cepat dan tepat.
Di bidang seni tilawah, dua suara merdu menjadi harapan sekolah. Muhammad Farrel Alfiansyah turun di cabang MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an) Putra, sementara Safira Fadilatul Aini berjuang di kategori MTQ Putri. Lantunan ayat-ayat suci yang mereka bawakan tidak hanya dinilai dari keindahan suaranya, tetapi juga ketepatan tajwid yang menjadi standar tinggi dalam kompetisi ini.
Tak kalah mencuri perhatian adalah Nada Maulidatul Kamila yang berlaga di cabang Tahfidzul Qur'an. Menjaga hafalan di usia dini memerlukan disiplin tinggi, dan Nada menunjukkan dedikasi itu melalui kefasihannya mengulang kembali ayat-ayat yang diujikan oleh dewan juri. Sementara itu, di pojok ruangan seni, Zahira Ilmiatus Syifa tampak khusyuk dengan kuasnya. Ia menjadi wakil sekolah dalam lomba Kaligrafi, memadukan seni lukis dengan keindahan huruf Arab menjadi sebuah karya visual yang menyejukkan mata.
Dunia dakwah cilik pun tak ketinggalan. SDN 3 Balongwangi memiliki dua orator berbakat. Arinil Chaqq menampilkan kepiawaiannya dalam Pildacil (Pidato Dai Cilik) Bahasa Arab, sebuah cabang yang memerlukan keberanian lebih karena harus menguasai bahasa asing sekaligus seni retorika. Di sisi lain, Hilwa Aqilah Aprelia Prayitno tampil memukau dalam cabang Pildacil Bahasa Indonesia, menyampaikan pesan-pesan kebaikan dengan gaya yang menggemaskan namun sarat makna.
Salah satu momen paling ikonik dalam kegiatan ini adalah saat seluruh delegasi SDN 3 Balongwangi berfoto bersama di depan spanduk resmi kegiatan. Dengan balutan busana yang beragam—mulai dari sarung dengan kopyah putih, hingga gamis panjang dengan hijab yang senada—mereka tampak seperti sebuah keluarga besar. Para guru pendamping yang mengenakan seragam batik dan pakaian dinas cokelat berdiri dengan gagah di samping mereka, memberikan perlindungan dan dukungan moral yang tak terhingga.
Kebersamaan ini menunjukkan bahwa meskipun mereka bertanding di cabang yang berbeda-beda, mereka tetap membawa satu identitas: SDN 3 Balongwangi. Dukungan antar sesama siswa juga terlihat nyata; saat salah satu teman sedang tampil, siswa yang lain memberikan semangat dari kursi penonton. Inilah nilai persaudaraan (ukhuwah) yang sebenarnya ingin dicapai dari lomba-lomba agama seperti ini.
Ajang Sab’ah Lomba PAI Kecamatan Tikung tahun 2026 ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi para siswa. Terlepas dari hasil akhir yang akan diumumkan oleh panitia, pengalaman berdiri di podium dan berkompetisi secara sehat adalah pelajaran hidup yang tidak didapatkan di dalam kelas formal.
Bagi SDN 3 Balongwangi, keikutsertaan ini adalah bukti komitmen sekolah dalam mendukung program pemerintah daerah Lamongan, khususnya dalam mencetak generasi yang "Unggul dan Berakhlakul Karimah". Sekolah berharap, melalui kegiatan seperti ini, para siswa tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki akar agama yang kuat sebagai filter di tengah arus modernisasi.
Saat perlombaan satu per satu berakhir, raut lelah namun puas terpancar dari wajah para siswa SDN 3 Balongwangi. Mereka pulang dengan membawa cerita baru, teman baru, dan tentu saja, semangat untuk terus belajar lebih baik lagi.
Kegiatan Sab’ah Lomba PAI di Tikung telah usai, namun gema lantunan Al-Qur'an dan semangat dakwah para siswa SDN 3 Balongwangi akan terus membekas. Tujuh pejuang kecil ini—Firman, Farrel, Safira, Nada, Arinil, Zahira, dan Hilwa—telah menorehkan sejarah bagi sekolah mereka. Mereka bukan sekadar peserta lomba, melainkan duta masa depan yang akan membawa cahaya Islam di tengah masyarakat.
Selamat kepada seluruh peserta dari SDN 3 Balongwangi. Teruslah berkarya, teruslah mengaji, dan jadilah kebanggaan bagi orang tua, guru, dan bangsa.(Red)








0 komentar:
Posting Komentar