BALONGWANGI – Suasana kelas VI SD Negeri 3 Balongwangi berubah menjadi laboratorium kreatif yang penuh energi pada Kamis (16/04). Di bawah bimbingan Ibu Siti Fatimah, S.Pd., para siswa tidak sekadar duduk mendengarkan teori, melainkan terjun langsung melaksanakan proyek akhir mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dengan tema yang menggugah selera, yaitu membuat Es Krim Frutamin. Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari metode Project-Based Learning (PjBL) murni dan Inquiry-Based Learning, di mana siswa diajak untuk berpikir sistematis layaknya ilmuwan muda, mulai dari merumuskan pertanyaan, menyusun hipotesis, hingga melakukan investigasi mandiri yang menantang.
Sesuai dengan alur modul ajar yang telah disusun, kegiatan ini dimulai dengan sesi inspiratif yang hangat. Guru memantik rasa ingin tahu siswa melalui cerita tentang para penemu cilik kelas dunia sebelum mereka benar-benar terjun ke tahap aksi. Ibu Siti Fatimah menjelaskan bahwa tujuan utama dari praktik ini adalah memberikan pengalaman belajar yang bermakna atau meaningful learning. Dalam pandangannya, siswa tidak boleh hanya menghafal teori tentang perubahan wujud benda, tetapi harus mempraktikkan proses ilmiah secara utuh, mulai dari melakukan riset terhadap bahan-bahan yang digunakan hingga mencatat setiap detail data ke dalam jurnal proyek mereka.
Dalam proses belajar yang komprehensif ini, para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan investigasi mandiri. Mereka melakukan percobaan dan pengamatan langsung terhadap perubahan wujud benda serta komposisi bahan yang mereka racik. Tidak hanya mengandalkan peralatan konvensional, para siswa juga didorong untuk memanfaatkan perangkat digital guna mencatat data hasil percobaan secara akurat serta menyiapkan media presentasi yang menarik. Salah satu elemen kunci dalam kegiatan ini adalah pengisian jurnal proyek sebagai bentuk mindful learning, di mana setiap siswa secara rutin mencatat kesulitan yang dihadapi, temuan baru yang tak terduga, serta refleksi pribadi mereka sebagai bukti otentik dari proses belajar yang telah dilalui.
Sistem penilaian yang diterapkan pun berbeda jauh dari ujian tulis konvensional karena sekolah lebih mengedepankan asesmen berbasis kinerja. Penilaian sumatif akhir bab ini dilakukan secara menyeluruh, di mana hasil akhir berupa Es Krim Frutamin hanyalah salah satu bagian kecil dari komponen penilaian. Hal yang lebih utama adalah bagaimana guru menilai orisinalitas ide setiap kelompok, ketepatan metode ilmiah yang mereka terapkan, kedalaman analisis data dalam menarik kesimpulan, hingga kualitas presentasi kelompok saat memaparkan hasil temuan mereka di depan kelas.
Kegiatan yang penuh keceriaan ini akhirnya ditutup dengan sesi refleksi diri yang menyentuh. Para siswa diberikan ruang seluas-luasnya untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pelajaran berharga apa yang mereka petik selama proses investigasi berlangsung. Melalui program ini, SD Negeri 3 Balongwangi berharap dapat memupuk jiwa kewirausahaan sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis siswa sejak dini. Hal ini sangat selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka yang ingin mencetak generasi tangguh, inovatif, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan cara-cara yang kreatif dan saintifik.(Red)








0 komentar:
Posting Komentar